Monday, October 23, 2017

Review Sigkat Polygon Xtrada 6 (2017) dibandingkan Polygon Heist 2 (2017), Sebuah Ulasan

Singkat cerita, saat ini saya sedang ketularan 'virus' gowes, atau hobi bersepeda.  Kira-kira dua bulan yang lalu, entah bagaimana tiba-tiba ingin punya sepeda. Niatnya sih untuk olahraga agar lebih sehat dan mengurangi berat badan (TB 171, BB 76 - agak-agak overweight!), sekaligus coba-coba bike to work.  Well, untuk usia saya yang hampir menginjak kepala 4, jujur ini hobi yang agak terlambat.  Tapi tak apalah, daripada tidak sama sekali kan? :D.

Niat menurunkan berat badan sebetulnya sudah dimulai dari awal 2017 lalu, awalnya mencoba menekuni olahraga jogging (ga PD klo bilang running, soalnya lambat banget..hahaha).  Gara-garanya terinspirasi oleh teman yang berhasil menurunkan berat badan dengan drastis karena konsisten menekuni olahraga yang satu ini.  Tetapi, saya tidak berhasil konsisten untuk menekuni jogging/running...entah mungkin saya terlalu malas, atau tidak ada partner sebagai motivator.  Walhasil sayapun off setelah mencoba 2 bulan.

Niat sehat pun muncul kembali dan entah bagaimana 'ilham' pun datang untuk mencoba bersepeda.  Dimulailah pencarian informasi mengenai olahraga sepeda.  Dari mulai jenis-jenis sepeda (banyak banget ya jaman sekarang...membingungkan), sampai tips-tips bersepeda yang baik dan benar.  Belajar hal baru adalah salah satu hal yang saya paling suka.  Sebenarnya sepeda pertama yang saya beli adalah Polygon Heist 2 (2017), tipe sepeda hybrid yang super keren, dan sepertinya paling banyak penggunanya di Indonesia, sampai ada istilah 'Heister'.    

Petualangan bersepeda pun dimulai kira-kira 2 bulan yang lalu.  Saya beruntung karena beberapa teman kantor ternyata sudah lebih dulu menggeluti hobi gowes ini 1-2 tahun yang lalu.  Setelah sempat vacum beberapa lama, akhirnya mereka pun mulai aktif kembali setelah tahu saya punya sepeda baru (cieee...:D).

Oh ya, saya tinggal di Bogor, kota dengan ketinggian antara 190-330 mdpl, sebuah kota kecil yang sangat padat.  Goweser Bogor pasti faham betul, bahwa kebanyakan trek/jalur bersepeda akhir pekan di kota ini adalah daerah luar kota yang penuh tanjakan.  Siapa juga yang mau gowes sehat di dalam Kota Bogor, yang penuh sesak oleh kendaraan bermotor saat akhir pekan. Jadi, goweser Bogor sangat bisa diandalkan kalau urusan bersepeda sambil melahap tanjakan-tanjakan curam...hehe.  

Setelah beberapa kali bergowes ria dengan teman-teman kantor dan teman kuliah dulu, saya mulai menemukan apa yang saya senangi dari bersepeda.  Ternyata saya lebih suka bersepeda melalui jalan-jalan kampung, pedesaan, pegunungan dengan view yang indah, dan jalan-jalan tanah/berbatu/offroad.  Setelah menyadari itu, saya merasa bahwa saya telah 'kurang tepat' memilih sepeda.  Heist 2 adalah sepeda mumpuni dengan 3x8 speed, sepeda hybrid yang konon didesain untuk touring dengan kondisi jalan yang bervariasi. Ini dapat terlihat dari ukuran crankset nya, yatu 48T-38T-28T, dan tipe ban 700x40c yang setelan road bike tapi ban nya lebih lebar. Heist cocok untuk hampir di semua kondisi, kecuali melahap tanjakan-tanjakan sangat curam dengan tipe jalan offroad.  Saat dibawa offroad, beberapa kali ban saya slip diantara bebatuan, karena ukuran yang relatif ramping, serta kehilangan grip gara-gara tertutup lumpur, karena tipe kembangan ban yang kurang cocok.

Ahirnya saya mulai berfikir untuk mengupgrade sepeda saya dengan crankset yang ukurannya lebih pas untuk tipe jalur-jalur di Bogor yang penuh tanjakan, serta ukuran ban (mengganti ke 27.5x2 inch).  Namun setelah hitung punya hitung, biaya upgrade ini bisa hampir seharga sepeda Heist saya kalau beli baru.  Wah kalau gini sih mendingan beli sepeda baru. Baiklah, tidak ada salahnya meminang sepeda baru, sepeda MTB.  Setelah browsing sana sini, tanya sana sini, akhirnya saya memutuskan untuk memilih Polygon Xtrada 6!!

Menentukan pilihan ke Xtrada 6 sungguh sebuah proses yang tak mudah. Parameter yang saya mau dari sepeda MTB baru saya adalah: (1) ukuran crankset yg 'pas', (2) MTB yang bisa dibawa offroad dengan asik, (3) memiliki groupset yang relatif lebih baik.  Dan semua itu salah satunya saya temukan di Xtrada 6.

Ada beberapa pilihan tipe Xtrada 6, yaitu 2x10 dan 1x10 speed (versi 2017) serta 3x10 speed (versi 2016).  Setelah dengan teliti membandingkan spek dari masing-masing tipe tersebut, saya memutuskan memilih Xtrada 6 versi 2x10 speed, si hijau.  Sebetulnya saya kurang suka dengan warna frame nya, tapi apa boleh buat...spek nya lebih penting buat saya.

Xtrada 6 (2x10) ini memiliki Crankset depan 36T-22T, dan sprocket 10 speed (11-36T).  Saya memilih 36-22T dengan alasan bahwa sepeda ini akan lebih ringan digowes dibanding Heist 2 saya yang ukuran crank tengahnya 38T dan sprocket 12-32T.  Selama menggunakan Heist, saya memang lebih banyak menggunakan chainweel tengah (38T), jadi saya fikir dengan menggunakan Xtrada yang 36T tidak akan terlalu jauh dari kebiasaan saya.  Xtada versi 2016 memiliki crankset 42-30-22T, agak berbeda cukup jauh dari Heist 2 saya. 

Mari kita tinggalkan sejenak urusan spek ini, kita langsung ke 'real world' performance nya Xtrada 6.  Xtrada 6 ini memang baru satu kali saya ajak gowes akhir minggu, tetapi langsung mencetak rekor gowes saya terjauh, 68km. Setelah menikmati gowes bersama Xtrada 6, inilah kesan yang saya dapatkan (relatif terhadap Heist 2):
  • Lebih PD melibas jalanan offroad. Saat saya menggunakan Heist 2, ukuran dan permukaan ban membuat saya tidak PD untuk melibas jalan offroad.  Namun demikian, walaupun ban Xtrada 6 adalah ban tahu (Schwalbe Smart Sam - aneh sih, padahal di spek Rodalink harusnya dapet yang Tough Tom), ban X6 kadang meleset beberapa kali saat menggilas batu kerikil agak besar. Mungkin ini karena tekanan ban yang terlalu tinggi (depan 38 psi, belakang 40 psi).  Ideal untuk offroad seharusnya depan 32 psi, belakang 35 psi (untuk tipe ban ini), agar grip lebih baik. Akan tetapi saya memilih menggunakan tekanan ban lebih besar sebagai kompromi, karena sebenarnya sebagian besar trek yang saya lalui adalah jalan aspal.
  • Lebih ringan di tanjakan!  Ini yang saya paling 'surprised', ternyata Xtrada 6 sangat enak dibawa melibas tanjakan curam.  Sebelumnya saya sering dibully karena hobi dorong Heist 2 saya kalau ada tanjakan, tetapi Xtrada 6 berhasil membuat saya 'gak malu2in'..hahaha.  Selama menggunakan si X6 kemarin, saya selalu di posisi gear depan paling besar (36T), dan semua tanjakan saya libas (panjang, pendek, curam, agak curam).  Bahkan teman-teman yang rajin memotret saya saat mendorong sepeda dulu, saya libas di tanjakan.. :D (Xtrada 3, Specialized Hardrock Sport).  Saya fikir, selain faktor ukuran crank yang pas untuk saya, ada faktor lain yang mungkin jadi penentu, yaitu: (bobot sepeda, geometri sepeda, dan psikologis saya sendiri).  Tetapi perbedaan antara Xtrada 6 vs Heist 2 di tanjakan saya rasakan berbeda sekali.
  • Lambat di jalan aspal dan landai.  Ini yang saya akui lemah dari Xtrada 6, selalu tertinggal dari rombongan. Saya fikir ada 2 faktor yang mempengaruhi, yaitu ukuran crankset terbesar yang hanya 36T, dibanding teman yang lain di 42T atau 48T.  Tetapi ini masih bisa diatasi dengan menjadi lebih fit dengan menggowes (cadence) lebih cepat.  Selain itu tipe ban tahu memang kurang efektif di jalan aspal.
  • Stang/handlebar kurang nyaman untuk penggunaan lama/jarak jauh.  Flat bar, swipe kecil, dan handgrip yang keras membuat telapak tangan saya cepat pegal dan kesemutan. Ini mungkin karena saya terbiasa dengan Heist 2 saya yang sudah saya ganti stang nya menjadi model riser handlebar dengan rise 5cm, dan sudut swipe lebih besar, serta handgrip lebih lembut dan lebar. Tapi memang handgripnya X6 kurang nyaman.
  • Suspension fork dengan travel 120mm benar-benar membuat sepeda ini sangat nyaman. Saat melibas jalan berlubang, sepeda ini benar-benar nyaman.  Selain itu fork di Xtrada 6 dapat di'lock' untuk mematikan suspensinya, sehingga konon akan membuat gowesan di trek mulus akan lebih efisien. Namun demikian, beberapa kali saya melibas tanjakan dengan asik walaupun posisi suspensi fork sedang ON.
  • RD dan FD deore membuat shifting terasa lebih lembut dan responsif.
  • Gowesan juga terasa lebih responsif. Mungkin pengaruh dari Crankset Prowheel yang sudah menggunakan teknologi Hollowtech.
Karena ini baru ujicoba pertama, jadi baru ini dulu yang dapat saya bagikan terkait Polygon Xtrada 6.  Seiring waktu, jika ada hal baru yang saya temukan, akan saya tambahkan terus di tulisan ini.

Overall, jika membandingkan Xtrada 6 dengan Heist 2, jelas bukan apple to apple.  Kedua sepeda ini berbeda peruntukannya, Xtrada 6 untuk cross country/trail sedangkan Heist 2 untuk touring dengan kondisi jalan yang bervariasi. But, I love my Xtrada 6 and Heist 2 very much!!  Tambahan, claim Polygon tentang Xtrada 6 yang memiliki desain lebih baik untuk masuk ke kelas XC/Trail sepertinya bukan isapan jempol...lebih agresif di tanjakan... Jargon 'more traction, more pop, more confident' sepertinya ada benarnya. 

Salam dua pedal, dan 2 ban!!

Disclaimer: Tulisan ini atas inisiatif dan pengalaman pribadi, bukan pesanan ataupun terkait dengan promosi Polygon (tidak dibayar sama sekali oleh Polygon, boro2..bonus aja ga dikasih :D).
  

Tuesday, August 30, 2016

SOLDIER OF FISHERIES SONG

SOLDIER OF FISHERIES SONG

The sky was so clear, and the wind sing a song
Soldier of fisheries come to make a pact
Wherever I go wherever I live
You and I should be man with blue soul

REFF:
All the time will....all the time will
Fight for good future and all my/our dream will come true
All the time will....all the time will
All the time I will make fisheries glory

[INTERLUDE, SOLO SINGING]
Wherever I go wherever I live
You and I should be man with blue soul

Song by: Nazdan

Monday, May 23, 2016

Review Olympus OMD EM5 for Underwater Photography

Nowadays, a lot of options of camera available for people who want to move from hobbies into a more serious underwater photographer. In the era of digital SLR (which is in last ten years), markets were suddenly flooded by various options for DSLR underwater camera setup, including underwater housing, lens ports, flash strobe, etc. That era was I think the fastest growing underwater photography technology and industry in the human history.

Few years ago, a 'new comer' has been introduced to digital photography society, the mirrorless technology. A new 'approach' of digital camera system which offers better experiences compared to DSLR system. Some of those advances are: smaller size (travel friendly), image quality, faster auto focus, lower noise, connectivity, and quietness.

When it comes to advance underwater photography, the first thing we imagine must be a bulky DSLR system, and this is true. Mirrorless technology (which mostly smaller then DSLR in size) still have smaller market share compared to the compact and DSLR cameras, which also the case for underwater photography.  This is also due to less vary of options for underwater setup currently available. Hence, most people still have hesitance to 'try' this new technology or completely shifting from 'common' DSLR to different world, the mirrorless systems.  Currently there have been three serious players in mirrorless technology, Sony and the mirco four third (MFT) gank leaders, the Olympus and Panasonic, while Canon and Nikon are trying to catch up.

Among the few options in mirrorless technology, Olympus and Panasonic is starting to be more serious to grab more market share. Within last couple of years, they have been introducing some of their new product line of cameras, the OMD and Pen series (Olympus) and G series (Panasonic).

Ok, I will stop here talking about the current situation of underwater photography around the globe. I will jump right in to share my experience using the Olympus OM-D E-M5 for my underwater photography.

My Olympus OM-D E-M5

Olympus OM-D E-M5 is new flagship camera from Olympus which was released in 2012. Although it was released quite sometimes ago, this camera still has the more advance technology compared to most cameras today, let's say touch screen, 5-axis stabilization, and super fast AF. When it comes to underwater photography, Olympus makes this camera a serious contender for existing leading camera brands (Canon, Nikon, and Sony). Olympus has released underwater housing for this, including dome and flat ports. In the other hand, Nauticam and Ikelite also have been joining to provide more housing options for OM-D E-M5 to the market. Moreover, both of the third party brands including Zen and Inon have released various options for fisheye, wide angle, and macro port for the existing housing.

Currently I consider myself a wide angle enthusiast. My personal setup for OM-D E-M5 is:
- Lens: Olympus Zuiko 8mm Fisheye Pro f1.8
- Olympus Housing PT-EP08
- Inon Dome Port EP02
- Strobe: YS-D2 and YS-25 Auto.

This is my first interchangeable lens underwater camera, an upgrade from my previous Canon G16. Hence, I cannot compare the OM-D E-M5 to other camera in the same segment.

General Impression

In general, OM-D E-M5 is a great underwater camera, especially when it coupled with high quality lens. I use the Olympus Zuiko 8mm Fisheye Pro f1.8 which is I'm very satisfied with the quality. The OM-D E-M5 is one of the fastest AF in the market, and I found this very useful when taking photograph underwater. You will not missed important moment, or when trying to capture a fast moving animal like the anemone fish. As you see below, I managed to capture important moment which only occurred in split seconds. What I have to do just aim and press the shutter, and let the camera thinking about the focus.


This pipe fish was captured in split second, he came at the right moment. The AF work flawlessly to capture the fish in focus (F14, 1/250).

This photo was taken very quick. I didn't have much time to compose and lose this sweet moment. I aimed my camera and fire. Impressively, the exposure is perfect, and the focus landed on the seahorse as I expected (F11, 1/125).


In terms of image quality, OM-D E-M5 produced excellent images. I found the color accuracy is amazing, even by only using auto white balance with strobe underwater. Coupled with the Olympus Zuiko 8mm Pro, this camera produced excellent fisheye image, sharp and beautiful color. I use RAW+Jpeg most of the time shooting underwater. This is important to be able to adjust the white balance later on. However, since the color accuracy is great, I rarely change the white balance during post processing.

In terms of battery performance, I can do 3 consecutive dives a day without any warning of low battery, which is also very pleasing. Even you can push it for the 4th dive (if you will) with some juice left at the end of the day. The best way to use OM-D E-M5 for underwater is of course using off camera flash strobe(s). This camera is able to set to the manual flash setting. Even we can set the power down to 1/64, which is very useful to reduce the battery drain. My personal setting is at 1/8 of flash power, although lower power still works well to trigger the off camera flash strobes.  I do have backup battery, but I've never use it at all.

Overall, I have no complain and very satisfied with this setup. Once again, this camera delivers excellent image quality, low noise, color accuracy, excellent battery life, and one of the most important thing is the very fast AF. However, it's important to note that you need a high performance SD memory card, to make sure smooth operation when you record in RAW file format.

Video performance is also no question about it. Altough it can only record up to 30fps fullHD movie, but the result was still amazing. Using the M. Zuiko 8mm fisheye lens we can create a unique close focus wide angle video. As most of underwater camera, it struggles to get perfect white balance without color filter or by manually adjusting the white balance. I'm not very much into video, but below is one sample footage that I took in Manado, North Sulawesi.



If you consider to get this one, there are several guides available online. This is one of the very good reference: http://www.uwphotographyguide.com/olympus-omd-em5-best-underwater-settings.

You can find more photos from my camera here and here

For other technical features of this camera, please refer to piles of references available online.

Please feel free to drop your comment and question.

Busy reef at Bunaken (F13, 1/250)

Healthy reef of Bunaken (F13, 1/250)

Lovely fisheye effect from the M. Zuiko 8mm Pro fisheye lens (F11, 1/250).

Advantage of fisheye when photographing the whole ship wreck. 
The M. Zuiko 8mm pro produced a pleasingly sharp image (F2.8, 1/100). 


Olympus PT-EP08 Housing and Inon EP02 Dome Port